PERPUSTAKAAN Prof. Dr. Nurcholish Madjid

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Polemik aturan miltpunctie di jawa masa wabah pes tahun 1916-1951

No image available for this title
Tulisan ini menyuguhkan potret masyarakat muslim di Jawa dalam menghadapi modernisasi kesehatan kolonial semasa wabah pes, khususnya yang berkaitan dengan polemik aturan miltpunctie (suntik limpa). Suntik limpa merupakan bagian penting dari aturan pemeriksaan mayat (doodschouw ordonnantie) di masa wabah pes yang ditetapkan mulai tahun 1916. Mulanya aturan ini dianggap bertentangan dengan syariat dan keyakinan beragama masyarakat muslim di Jawa. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah tentang aturan miltpunctie yang memicu kontroversi antara masyarakat muslim di Jawa dengan pemerintah kolonial. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang yang kental antara dunia Barat dan Timur. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan melewati tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan politik kesehatan dengan teori intervensi dari Lawrence D. Brown. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya aturan miltpunctie mulai tahun 1916 hingga berakhirnya masa pemerintahan
kolonial Belanda tahun 1942, masyarakat muslim di Jawa masih belum bisa menerima prosedur suntik limpa sebagai sesuatu yang diizinkan oleh syariat. Padahal jika dilihat dari sisi medis, tidak ada keraguan tentang pentingnya menjalankan aturan suntik limpa. Protes dan penolakan yang dilakukan masyarakat menunjukkan adanya perbedaan sudut pandang dan prioritas antara masyarakat muslim di Jawa dengan pemerintah kolonial. Pemerintah di satu sisi bertujuan untuk mengupayakan pencegahan penyebaran wabah pes. Namun di sisi lain, masyarakat muslim meyakini bahwa berdasarkan dalil dan hasil muktamar ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah tahun 1933, suntik limpa diyakini bertentangan dengan ajaran Islam. Pada akhirnya, kepatuhan terhadap keyakinan beragama menjadi lebih utama dibandingkan kepatuhan terhadap pemerintah kolonial. Di sinilah pemerintah kolonial meletakkan peran penghulu dan dokter Ahmad Ramali sebagai agen kolonial, dengan pemahaman keilmuan agama Islam yang mumpuni, untuk mencari jalan tengah dari persoalan ini. Meski pada akhirnya, atas kesepakatan alim ulama, suntik limpa baru bisa diterima dengan syarat syarat tertentu pasca kemerdekaan pada tahun 1951, namun hal tersebut membuktikan bahwa persoalan suntik limpa dapat menjadi contoh riil tentang pergulatan Islam dan kolonialisme dalam sejarah kesehatan Indonesia di masa wabah.
Ketersediaan
SS24004SKR SPI 24004Perpustakaan FAH (Skripsi SPI)Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan
Informasi Detil
Judul Seri

-

No. Panggil

SKR SPI 24004

Penerbit

Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta.,

Deskripsi Fisik

x, 73 hlm, ilus

Bahasa

Indonesia

ISBN/ISSN

-

Klasifikasi

SKR SPI

Informasi Detil
Tipe Isi

text

Tipe Media

-

Tipe Pembawa

-

Edisi

-

Info Detil Spesifik

-

Pernyataan Tanggungjawab
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas

Share :


Link Repository

Pustaka Digital Internasional

Berikut link E-Jurnal, E-Book , dan E-Lib Internasional. Silahkan klik tab disamping, klik logo nya untuk menuju website Pustaka Digital Internasional

Punya kritik , saran , pesan harapan ?