Dinamika Sosial-Ekonomi Buruh Pelabuhan Surabaya 1900-1930
Rizaldy Rahadian Pradipta - Personal Name
Jajat Burhaniddin - Personal Name
Penelitian ini bertujuan untuk membahas dinamika sosial-ekonomi
pada gerakan buruh pelabuhan di Surabaya pada tahun 1900-1930. Semenjak
beralihnya sistem ekonomi tanam paksa pada tahun 1830 menjadi sistem
ekonomi liberal pada tahun 1870. Peralihan sistem ekonomi menimbulkan
dampak yang beragam bagi masyarakat pribumi. Fenomena ini dilihat dari
mulai berkembangnya perindustrian, dengan perkembangan industri,
kegiatan perekonomian menjadi semakin maju. Sintesa yang dihasilkan dari
perkembangan ekonomi tersebut adalah mulai banyaknya kebutuhan atas
tenaga kerja. Surabaya sebagai kota Gementee mempunyai pelabuhan yang
menjadi salah satu di antara tiga pelabuhan terbesar di Pemerintahan Kolonial
Hindia-Belanda. Tidak hanya karena letaknya yang strategis dengan
menghubungkan pelayaran di Nusantara bagian timur, tapi karena daerahdaerah sekitar Surabaya yang menjadi daerah dengan komoditas internasional
yakni gula. Melihat tata letak dan infrastruktur yang sudah dimulai satu abad
sebelumnya, menjadikan Surabaya dan pelabuhannya menjadi ramai
sehingga kebutuhan akan buruh pelabuhan meningkat. Penelitian ini
mengungkapkan hubungan antara perubahan sosial yang terjadi akibat
kebijakan politik etis yang diterapkan oleh pemerintah kolonial kepada rakyat
bumiputera membawa dampak signifikan terhadap munculnya pergerakan
buruh. Pergerakan buruh yang menjadi serikat atau organisasi ini kemudian
berkembang menjadi aksi-aksi pemogokan dan solidaritas antar buruh. Pada
tahun 1930, dunia dihantam oleh depresi ekonomi sehingga gerakan buruh
menjadi lebih sulit termasuk buruh Surabaya karena aktivitas eksport dan
import mengalami penurunan volume dan banyaknya pemecatan yang
dilakukan oleh perusahaan milik pemerintah kolonial ataupun perusahaan
swasta.
pada gerakan buruh pelabuhan di Surabaya pada tahun 1900-1930. Semenjak
beralihnya sistem ekonomi tanam paksa pada tahun 1830 menjadi sistem
ekonomi liberal pada tahun 1870. Peralihan sistem ekonomi menimbulkan
dampak yang beragam bagi masyarakat pribumi. Fenomena ini dilihat dari
mulai berkembangnya perindustrian, dengan perkembangan industri,
kegiatan perekonomian menjadi semakin maju. Sintesa yang dihasilkan dari
perkembangan ekonomi tersebut adalah mulai banyaknya kebutuhan atas
tenaga kerja. Surabaya sebagai kota Gementee mempunyai pelabuhan yang
menjadi salah satu di antara tiga pelabuhan terbesar di Pemerintahan Kolonial
Hindia-Belanda. Tidak hanya karena letaknya yang strategis dengan
menghubungkan pelayaran di Nusantara bagian timur, tapi karena daerahdaerah sekitar Surabaya yang menjadi daerah dengan komoditas internasional
yakni gula. Melihat tata letak dan infrastruktur yang sudah dimulai satu abad
sebelumnya, menjadikan Surabaya dan pelabuhannya menjadi ramai
sehingga kebutuhan akan buruh pelabuhan meningkat. Penelitian ini
mengungkapkan hubungan antara perubahan sosial yang terjadi akibat
kebijakan politik etis yang diterapkan oleh pemerintah kolonial kepada rakyat
bumiputera membawa dampak signifikan terhadap munculnya pergerakan
buruh. Pergerakan buruh yang menjadi serikat atau organisasi ini kemudian
berkembang menjadi aksi-aksi pemogokan dan solidaritas antar buruh. Pada
tahun 1930, dunia dihantam oleh depresi ekonomi sehingga gerakan buruh
menjadi lebih sulit termasuk buruh Surabaya karena aktivitas eksport dan
import mengalami penurunan volume dan banyaknya pemecatan yang
dilakukan oleh perusahaan milik pemerintah kolonial ataupun perusahaan
swasta.
Ketersediaan
| SS24064 | SS24064 | Perpustakaan FAH | Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
-
Penerbit
: Jakarta., 2024
Deskripsi Fisik
xiii, 127 hlm. 25 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Informasi Detil
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
Rizaldy Rahadian Pradipta
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas










