Peran Usmar Ismail dalam membangkitkan rasa nasionalisme melalui perfilman indonesia tahun 1950-1970
Farah Awalia Nurdini - Personal Name
Zakiya Darojat - Personal Name
Pertunjukan film di Indonesia terjadi tidak lama setelah Lumire bersaudara
memperkenalkan pada masyarakat dunia suatu teknik moving picture (gambar
bergerak) pada tahun 1895. Film pertama kali dibuat di Indonesia sekitar tahun
1926, masyarakat telah diperkenalkan dengan pertunjukan film berupa film-film
dokumenter yang berdurasi pendek. Pada zaman pendudukan Jepang, seniman
yang menggeluti pertujukan panggung sandiwara mulai beralih pada dunia film
seperti Andjar Asmara dan Usmar Ismail. Tujan penelitian ini adalah untuk
mengetahui peran Usmar Ismail sebagai salah satu tokoh pelopor film Indonesia
dalam menasionalisasikan film. Melalui filmnya yang mempunyai corak
keindonesian dan realita yang terjadi di dalam masyarakatnya. Seperti ketiga film
yang akan dibahas dalam skripsi ini yaitu Darah dan Doa, Enam Djam Di Jogya,
dan Pedjuang, ketiga film ini mengisahkan tentang manusia yang terbawa arus
revolusi. Penulisan penelitian ini mengunakan metode deskriptif analitis dengan
prespektif sejarah, dan menggunakan ilmu bantu sosiologi untuk mengetahui
siapakah Usmar Ismail, bagaimana peran serta dampak karya-karya film Usmar
Ismail bagi masyarakat maupun bagi dunia perfilman. Teknik pengumpulan data
skripsi ini dilakukan dengan cara observasi baik melalui buku, jurnal, dan film.
Temuan dari penelitian ini adalah pada masa sebelum Usmar Ismail film hanya
dijadikan orientasi dagang, sebagian bergenre seks serta menampilkan potret
kehidupan orang kaya. Usmar Ismail juga menjadikan film bukan hanya sebagai
media hiburan, melainkan sebagai media ekspresi kesenian dan intelektual yang
mampu membuat film mempunyai corak keindonesiaan.
memperkenalkan pada masyarakat dunia suatu teknik moving picture (gambar
bergerak) pada tahun 1895. Film pertama kali dibuat di Indonesia sekitar tahun
1926, masyarakat telah diperkenalkan dengan pertunjukan film berupa film-film
dokumenter yang berdurasi pendek. Pada zaman pendudukan Jepang, seniman
yang menggeluti pertujukan panggung sandiwara mulai beralih pada dunia film
seperti Andjar Asmara dan Usmar Ismail. Tujan penelitian ini adalah untuk
mengetahui peran Usmar Ismail sebagai salah satu tokoh pelopor film Indonesia
dalam menasionalisasikan film. Melalui filmnya yang mempunyai corak
keindonesian dan realita yang terjadi di dalam masyarakatnya. Seperti ketiga film
yang akan dibahas dalam skripsi ini yaitu Darah dan Doa, Enam Djam Di Jogya,
dan Pedjuang, ketiga film ini mengisahkan tentang manusia yang terbawa arus
revolusi. Penulisan penelitian ini mengunakan metode deskriptif analitis dengan
prespektif sejarah, dan menggunakan ilmu bantu sosiologi untuk mengetahui
siapakah Usmar Ismail, bagaimana peran serta dampak karya-karya film Usmar
Ismail bagi masyarakat maupun bagi dunia perfilman. Teknik pengumpulan data
skripsi ini dilakukan dengan cara observasi baik melalui buku, jurnal, dan film.
Temuan dari penelitian ini adalah pada masa sebelum Usmar Ismail film hanya
dijadikan orientasi dagang, sebagian bergenre seks serta menampilkan potret
kehidupan orang kaya. Usmar Ismail juga menjadikan film bukan hanya sebagai
media hiburan, melainkan sebagai media ekspresi kesenian dan intelektual yang
mampu membuat film mempunyai corak keindonesiaan.
Ketersediaan
SS180180 | SKR SPI 2018 0180 | Perpustakaan FAH (Skripsi SPI) | Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - No Loan |
Informasi Detil
Judul Seri
-
No. Panggil
SKR SPI 2018
Penerbit
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah : fakultas Adab dan Humaniora., 2018
Deskripsi Fisik
iv, 69 lembar
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
SKR SPI
Informasi Detil
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
Farah Awalia Nurdini. Zakiya Darojat
Tidak tersedia versi lain