Terbaru
Lihat lebih banyak100 RP
Lihat lebih banyakPopuler
Lihat lebih banyakCara Pembayaran
Kajian Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Menyoroti Dinamika Dunia Kontemporer
Kajian Sejarah Peradaban Islam di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta Menyoroti Dinamika Dunia Kontemporer
Di tengah gempuran disrupsi teknologi dan percepatan transformasi sosial, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta justru menancapkan pilar keilmuan sejarah sebagai kompas masa depan. Bertepatan dengan penyelenggaraan Spiced Islam International Conference III di Tapanuli Tengah pada 20-22 Agustus 2025 lalu, terlihat jelas bagaimana para peneliti lintas negara menggunakan metode sejarah untuk membaca pola keterhubungan maritim yang kini relevan dengan geopolitik kontemporer [citation:1]. Fakultas ini secara konsisten menunjukkan bahwa kajian manuskrip kuno dan arsip pelayaran bukanlah romantisme masa lalu, melainkan basis data penting untuk menganalisis perebutan pengaruh di kawasan Samudra Hindia saat ini.
Kajian tentang jalur rempah dan interaksi antarperadaban pada abad ke-8 hingga ke-14, yang dibahas dalam konferensi tersebut, ternyata memiliki korelasi erat dengan dinamika ekonomi digital modern. Topik tentang perdagangan keramik, koin, serta artefak gelas yang melintasi Asia dan Afrika tidak hanya berbicara tentang benda mati, melainkan jejaring sosial-ekonomi yang mirip dengan rantai pasok global kekinian [citation:1]. Fakultas Adab dan Humaniora melalui program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) berhasil mentransformasi narasi lama menjadi kerangka berpikir kritis untuk melihat pola perpindahan budaya dan kapital yang masih terjadi hingga era kecerdasan buatan.
Dari Tradisi Akademik ke Program Doktoral Perdana
Langkah monumental diambil oleh FAH UIN Jakarta dengan resmi mengantongi izin pembukaan Program Doktor (S3) Sejarah Peradaban Islam berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 468 Tahun 2025 [citation:2]. Ini adalah program doktor pertama sepanjang sejarah fakultas yang didirikan sejak 1960 tersebut, menandai babak baru dalam pendalaman historiografi Islam di tingkat tertinggi. Dekan FAH, Dr. Ade Abdul Hak, mengungkapkan harapannya agar program ini menjadi ruang lahirnya generasi cendekiawan yang tidak hanya memahami masa lalu, tetapi mampu merumuskan masa depan umat dari cermin peradaban [citation:2].
Terbitnya izin ini merupakan puncak dari proses panjang yang dimulai dari penyusunan proposal hingga visitasi pada Februari lalu, dan kini mewajibkan UIN Jakarta untuk memenuhi standar ketat seperti ketersediaan lima dosen tetap di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Kehadiran program S3 ini sekaligus menjawab kebutuhan akan riset sejarah yang mendalam di tengah arus informasi yang superfisial. Dengan kurikulum yang dirancang untuk menggabungkan kajian filologi, arkeologi, dan analisis sosial, program ini diproyeksikan menjadi magnet bagi para peneliti yang ingin menyelidiki akar masalah kebangsaan dan globalisasi dari perspektif peradaban Islam [citation:2].
Spiced Islam: Laboratorium Pemikiran Lintas Benua
Konferensi Spiced Islam yang telah memasuki edisi ketiga ini bukan sekadar forum seremonial, melainkan bukti nyata kapasitas FAH UIN Jakarta sebagai katalis riset internasional. Menghadirkan pembicara dari Aga Khan University London, Leiden University, hingga National University of Singapore, konferensi ini menjadi ajang pertukaran metodologi penelitian sejarah yang inovatif [citation:1]. Dengan fokus pada konektivitas maritim, para akademisi mengupas bagaimana jalur pelayaran kuno menghubungkan politik lokal Nusantara dengan Dinasti di Tiongkok serta kekhalifahan di Timur Tengah, sebuah topik yang sangat relevan dengan isu poros maritim global saat ini.
Kolaborasi antara Prof. Dr. Jajat Burhanudin dari UIN Jakarta dan Mahmood Kooria dari University of Edinburgh menjadi motor penggerak konferensi ini sejak tahun 2022 [citation:1]. Kerjasama ini menunjukkan bahwa kajian sejarah di FAH tidak berjalan di menara gading, melainkan terhubung secara organik dengan pusat-pusat studi dunia. Bahkan, temuan-temuan arkeologis tentang situs Bongal di Sumatra Utara yang dipresentasikan dalam konferensi berhasil memberikan data konkret mengenai interaksi antara penduduk lokal dengan pedagang asing, memberikan pelajaran berharga bagi kebijakan diplomasi budaya Indonesia di era kontemporer [citation:1].
Humaniora Digital di Tengah Pusaran Teknologi
Di tengah narasi pesimistis tentang matinya ilmu humaniora di era otomatisasi, FAH UIN Jakarta justru menunjukkan adaptasi dengan mengarahkan fokus pada digitalisasi arsip dan kurikulum berbasis riset. Di bawah kepemimpinan Dekan Ade Abdul Hak, fakultas ini terus berinovasi agar kajian bahasa dan sejarah tetap relevan dengan perkembangan teknologi informasi [citation:4]. Kekuatan sekitar 50 pakar dan guru besar di FAH menjadi modal utama untuk menciptakan sintesis antara metode sejarah tradisional dan analisis data modern, sebuah pendekatan yang semakin dicari di pasar kerja global, khususnya di bidang riset kebijakan dan analisis budaya.
Prospek karier lulusan yang mencakup diplomat, peneliti, hingga pustakawan modern menunjukkan bahwa keahlian sejarah tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Dengan lahirnya program doktoral dan penguatan kolaborasi internasional, FAH mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pemikir yang mampu memfilter informasi dan menyusun narasi kebangsaan di tengah derasnya banjir data digital. Hal ini sejalan dengan visi jangka panjang UIN Jakarta untuk menjadi universitas kelas dunia (world class university) dengan tetap berpijak pada nilai-nilai humaniora yang kuat [citation:7].
Relevansi Sejarah dalam Menyelesaikan Problem Sosial
Salah satu pembahasan krusial dalam konferensi Spiced Islam adalah tentang peran budaya material seperti tekstil dan tradisi konsumsi sirih pinang dalam membangun identitas sosial masyarakat pesisir [citation:1]. Riset semacam ini menunjukkan bahwa kajian sejarah peradaban Islam memiliki dimensi antropologis yang kuat, yang dapat diaplikasikan untuk memahami konflik sosial atau bahkan negosiasi identitas di masyarakat multikultural Indonesia. Dengan kata lain, ilmu sejarah di FAH bergerak melampaui narasi besar kekuasaan dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya instrumen analisis yang tajam untuk membaca realitas sosial kontemporer.
Contoh konkretnya adalah ketika para peneliti menggunakan pendekatan sejarah untuk menelusuri asal-usul konflik agraria atau dinamika politik lokal, metode yang diajarkan di FAH UIN Jakarta memberikan perspektif jangka panjang yang seringkali diabaikan oleh ilmu sosial kuantitatif. Dengan adanya program doktoral, diharapkan lebih banyak riset mendalam yang dapat mengungkap benang merah antara kebijakan kolonial di masa lalu dengan struktur birokrasi dan ekonomi di Indonesia saat ini. Pendekatan ini menjadi semakin penting menjelang tahun politik dan pergeseran tatanan global yang membutuhkan pemahaman akan akar sejarah setiap peristiwa.
Implikasi ke Depan: Merumuskan Masa Depan dari Cermin Peradaban
Dengan dibukanya Program Doktor Sejarah Peradaban Islam dan suksesnya konferensi internasional, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta secara efektif mengukuhkan posisinya sebagai pusat keunggulan dalam kajian Islam di Indonesia. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat reputasi akademik, tetapi juga membangun infrastruktur kognitif bagi para pemikir masa depan yang mampu menghubungkan benang merah antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Optimisme ini tercermin dalam harapan Dekan Ade Abdul Hak agar lulusan S3 nantinya tidak hanya cakap mengkaji teks, tetapi juga memiliki kepekaan untuk menjawab tantangan kompleks dunia modern [citation:2].
Ke depan, tantangan bagi FAH adalah bagaimana memastikan kurikulum dan riset yang dihasilkan tidak lekang oleh zaman, namun tetap kritis dan adaptif. Penguatan kerjasama dengan BRIN dan Kementerian Kebudayaan seperti yang terlihat dalam konferensi Spiced Islam harus dilanjutkan untuk mendukung riset arkeologi dan pelestarian naskah [citation:1]. Dengan demikian, kajian sejarah peradaban Islam di FAH UIN Jakarta tidak hanya menjadi monumen ilmu pengetahuan, tetapi juga laboratorium ide bagi pengambil kebijakan, pendidik, dan masyarakat luas untuk membangun masa depan yang lebih beradab dan berkeadilan berdasarkan kearifan sejarah.



































